Anggo Marantika

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Aku tidak berbeda

Aku tidak berbeda

Aku tidak berbeda

Siapa bilang aku berbeda. Aku selayaknya anak perempuan lain yang memiliki sisi feminim. Hanya karena tampilanku, kalian membuat penilaian yang sangat menyakitkan. Apa masalahnya jika rambut di sisi kepalaku habis? Apakah dengan menggunakan kemeja dan celana jeans lusuh, aku tidak termasuk ke dalam golongan perempuan? Lalu, kenapa kalian meributkan soal tindik di beberapa bagian tubuhku?

*---*

Don’t judge the book by its cover. Ungkapan itu seolah tak berlaku untuk gadis belia yang memiliki segudang bakat. Penampilannya menggambarkan remaja masa kini. Ia terlihat menggunakan kemeja kotak-kotak berbahan flannel. Sangat jarang rok melingkar di pinggangnya. Firza memang sedikit berbeda. Penampilannya eksentrik. Tapi ia bukan anak urakan seperti yang kalian teriakan.

Firza memiliki prinsip dengan ketahanan yang patut untuk dibanggakan. Prestasinya di bidang musik sudah tidak bisa terbilang. Didukung dengan prestasi akademis yang membanggakan. Fiza tumbuh dengan kepribadian yang sangat menawan. Ia memiliki pergaulan yang cukup luas. Namun sayang, orang-orang yang tak mengenalnya, justru memberikan banyak cacian. Menjadi anak yang berbeda bukan perkara mudah. Banyak mata menghantam tajam. Bisikan yang menyakitkan. Bahkan asumsi negatif yang di dapat dari masyakat.

Firza tidak memiliki tempat di sekolah Formal. Ia dipaksa untuk memilih bermusik atau sekolah. Meski dengan penyampaian yang lembut, Firza tetap kehilangan sebagian haknya. Gadis belia ini tidak mampu berkata-kata. Meninggalkan sekolah favorit dengan hatinya yang menjerit. Bagaimana mungkin, anak yang memiliki talenta dengan kemampuan akademik di atas rata-rata bisa dikeluarkan? Sistem ini sungguh gila! Apakah benar kecerdasan kita hanya diukur melalui selembar kertas, sertifikat? Bagaimana dengan mereka yang berhasil, di luar jalur akademis?

Musisi kecil yang malang! Itulah mengapa ia memilih pendidikan alternatif berlabel, Homeschooling Primagama. Firza dapat melanjutkan tour musik dengan band kesayangan, tanpa khawatir program pendidikannya. Gagal yang telah ia alami, membentuk tanggung jawabanya. Meski beberapa kali kursinya terlihat kosong, ia tetap melengkapi semua tugas-tugasnya. Sebagai guru, aku peduli tentang kemajuan belajarnya. Ku siapkan tugas pengganti yang setara dengan apa yang teman-temannya peroleh. Sehingga proses pembelajaran tidak terhenti. Bukankah belajar dapat dimana saja dan kapan saja? Hal ini mendewasakan Firza sebagai seorang pelajar. Juga aku sebagai seorang gurunya.

Hasil yang sungguh di luar dugaan. Seorang artis yang cukup sibuk, meraih nilai tertinggi di semester pertamanya dengan kami. Bukan hanya itu, Firza terlihat beberapa kali merangkul teman-teman kelasnya. Membantu mereka untuk memahami lebih dalam mengenai materi yang diberikan. Firza menunjukan kualitas seorang pelajar. Memiliki pengetahuan yang baik, sikap yang dewasa dan keterampilan tingkat dewa.

Tak ada gading yang tak retak. Disetiap sisi kesempurnaan, ia memiliki celah permasalahan. Firza masuk ke titik terbawah dalam hidupnya. Bukan tanpa alasan, mengapa prestasinya menurun drastis! Bahkan untuk urusan musik, ia terlihat jarang terlibat. Gadis belia yang terombang ambing karena perkenalannya dengan cinta. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis umumnya. Menikmati keindahan, dan keagunangan dari makhluk sepertinya. Bukan hanya sekali, melainkan siklus yang selalu terulang. Tidak hanya sebatas kagum tetapi hasrat ingin memiliki.

Bukan cinta yang menyebabkan firza terluka. Lebih mendalam, perbedaan tentang rasa yang ia hadapi berasal dari pola asuh orangtuanya. Meski gadis ini tumbuh kuat dengan kasih yang ayahnya berikan. Hatinya selalu terusik dengan keras kepala ibundanya. Ia menginginkan sesuatu yang berbeda. Tanpa suara yang nyaring atau keputusan yang bertaring. Ketika ia tumbuh dewasa, batinnya lelah dengan semua paksaan. Sedikit saja. Mungkin hanya sebentar, waktu yang ia butuhkan. Ia ingin terbang bebas seperti elang. Melupakan sayap-sayap indah angsa yang selalu diberikan.

Dampak yang dirasakan sangatlah besar. Hampir dua bulan, ia pergi tanpa kabar, atau datang dengan seenaknya. Ia tabrak semua aturan yang berlaku. Alasannya hanya untuk menarik perhatian. Ia membutuhkan kasih sayang dari sosok ibu yang ia rindukan. Aku kehilangannya! Kemana Firza si anak yang ceria? Yang membantu teman-temannya saat menemukan kesulitan. Kami semua terheran-heran akan tingkahnya. Meskipun demikian, area kognitifnya tidak pernah berkurang. Tetap saja, nilai-nilai Biologi selalu di bertengger di posisi pertama.

Bukan hanya sekedar nilai yang aku khawatirkan tentangnya. Mungkin, ia membutuhkan seseorang untuk mencurahkan keresahannya. Ketika kelas baru saja berakhir, si gadis nyentrik memilih untuk berpamitan dengan segera. Ku tanyakan apa yang ia butuhkan dariku. Jawabnya adalah datang ke konsernya malam ini. Tanpa berfikir panjang ku iyakan ajakannya. Dengan begitu, aku bisa selangkah lebih dekat. Membuat sebuah moment untuk mendengarkan celotehnya. Mungkin saja kutemui apa kendalanya.

Malam itu, ku kenakan setelan kemeja berwarna abu-abu. Ku sandarkan fikiranku ke tempat dimana Firza akan bernyanyi. Setibanya aku di tempat yang telah dikirimkan Firza melalui ponselku. Kulihat sekeliling, ternyata ini adalah sebuah café. Firza sudah memetik gitarnya lawasnya. Ia mulai memainkan satu demi satu lagu, sambil sesekali matanya berbicara padaku. Suaranya terlantun sangat indah. Ia terlihat seperti Firza yang ku kenal biasanya.

Tepat jam 10 malam, ia menyudahi musiknya. Bersama dengan seorang gadis berambut pirang, ia menghampiriku. Terjadi percakapan yang panjang antara kami bertiga malam itu. Satu demi satu tuturnya bercerita tentang hambatan yang ia rasakan. Lukanya dalam. Sesekali ia menghisap rokok. Aku sedikit terkejut. Ku biarkan ia bercerita dengan air matanya yang teralihkan lewat asap rokok. Setelah nada titik yang ku dapat. Ku raih rokok ditangannya. Sejak kapan? Tanyaku. Sambil berlalu ku buang rokok yang setengahnya habis terbakar. Hanya sesekali. timpalnya kesal.

Keresahannya terdengar tegas. Tidak ada nada sumbang. Hanya sesekali tangannya terlihat menggenggam. Mulutku mulai terbuka lebar. Mengkomentari segala tingkahlakunya. Mulai dari sebuah ekspresi hati yang dituangkan dalam cara yang keliru. Sampai pada pertanyaan, apa yang sebenarnya ia cari? Sesekali hatinya setuju dengan apa yang ku katakan. Meski terlihat egonya yang menjadi penghalang untuk kembali.

Ku berikan kesepakatan untuknya. Kami akan mencoba membantu berkomunikasi dengan ibundanya. Sebagai pengganti, ia harus mengikuti semua program sekolah. Kembali menjadi Firza yang memiliki motivasi besar. Ia mengangguk setuju. Sebagai representasi sekolah, aku menggandeng psikologi untuk menyelesaikan masalah Firza. Mereka terlihat berbicara dengan ibundanya. Meski pemahaman yang dicapai hanya secuil, minimal ada sebuah perubahan yang berhasil dilakukan.

Disekolah, team guru berjuang mengembalikan Firza. Mulai dari semangat belajarnya sampai pada pergaulannya. Hampir dipenghujung waktu, kami membersamai Firza. Terdapat perubahan yang sangat signifikan dari kejadian terakhir kali yang merenggut dirinya. Ia kembali mengikuti hampir semua program sekolah. Mengejar ketertinggalan materi dengan berdiskusi bersama gurunya. Kami melihat anak yang kembali terlahir. Firza kebanggan kami semua.

Dihari terakhir sekolahnya, ia terlihat mempersembahkan setangkai bunga mawar untuk kami. Bukan hanya guru-gurunya, melainkan teman seperjuangannya. Berkumandang bait demi bait lagu yang diiringi dengan petikan gitar. Suaranya terdengar lembut namun sedikit bernada rock. Semua temannya bersorak. Untuk peratama kalinya, kami melihat Firza menggunakan rok. Di balut dengan busana kebaya modern dan make up yang mempercantik dirinya. Hari itu adalah, hari perpisahan Firza dengan sekolah. Hari kelulusan yang sangat berkesan. Ajang pembuktian tentang perjuangan yang ia telah taklukan. Hari itu, ia berhasil meraih posisi ke tiga, sebagai peraih nilai tertinggi dalam ujian.

Luka memang belum sepenuhnya pulih, tapi semangat juangnya tidak pernah padam. Ia adalah gadis kecil kami yang selalu menginspirasi. Berbeda bukan suatu masalah. Ia mengubahnya menjadi suatu karya. Menginspirasi banyak remaja dari seluruh penjuru Indonesia bersama lagunya. Ia yang kini banyak dipuja, memiliki kisah untuk dibagikan. Melalui musik, ia menceritakan kisah hatinya. Berbicara atas nama cinta, agar tak ada yang bernasib sama. Firza, mengajarkanku banyak hal. She is not only a student for me, but also a real teacher. Thank you for believing me as your friend.

Refleksi

§ Beauty in diversity. Hargailah sebuah perbedaan. Hanya dengan itu, kita akan melihat sebuah keindahan. Toleransi adalah sebuah kunci untuk melihatnya.

§ Nilai akademis bukanlah segalanya. Ada banyak hal yang dapat kita kembangkan. Keterampilan dan sikap adalah hal lain yang membuat manusia memiliki nilai.

§ Bunda, sadarilah akar dari pemasalahan putera-puteri kita berasal dari rumah. Jalinlah komunikasi efektif, sehingga mereka tumbuh penuh dengan ukiran cinta.

§ Banyak orangtua yang tidak memahami akar permasalahan kenakalan remaja. Ketika anak berkata tidak jujur, mungkin kita perlu mengevaluasi cara kita dalam berkomunikasi. Ketika mereka tidak dapat mengambil keputusan, periksalah kalimat perintah yang sering diucapkan. Karena sumber belajar terdekat adalah keluarga, maka perannya sangat besar untuk membentuk kepribadian anak.

§ Guru perlu meningkatkan perannya. Kita adalah agent of changes, bukan hanya dalam hal mentransfer ilmu tapi mengubah perilaku. Nelson Mandela say “education is weapon to change the world”. Kalimat ini bukan hanya sebatas kiasan, tapi memiliki makna mendalam. Kita hanya mampu menemukan maknanya setelah kita melakukannya. Selamat mencoba untuk rekan-rekan seperjuanganku.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bagus sekali...

09 Nov
Balas

Terimakasih bunda

09 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali